Blitar – Minimnya volume air yang dapat ditampung Sungai Bogel dan Sungai Udut Unut,  menjadi salah satu penyebab banjir, yang setiap tahun melanda wilayah Kecamatan Sutojayan. Sendimen tanah yang mengendap di kedua sungai tersebut, bahkan kini sudah mencapai ketinggian 2 meter.

Diungkapkan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Blitar, Heru Irawan, setiap memasuki musim penghujan, baik Sungai Bogel maupun Sungai Udut Unut sudah tidak lagi mampu menampung luapan air hujan. Terlebih jika intensitas hujan cukup tinggi. Akibatnya air meluap tidak hanya ke area persawahan namun juga ke pemukiman warga, yang jaraknya hanya berkisar 10 hingga 25 meter dari kedua sungai itu. Oleh karena itu, Pemkab. Blitar berencana melakukan normalisasi (pengerukan).

Namun karena keterbatasan APBD, Pemkab. Blitar mengusulkan anggaran normalisasi kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNBP).  Dengan menggandeng Universitas Brawijaya Malang, Pemkab. Blitar  mengkalkulasikan kebutuhan anggaran untuk normalisasi, besarnya senilai Rp 86 miliar. Setelah mendapat persetujuan dari Bupati Blitar, rencananya pekan depan, usulan anggaran normalisasi tersebut akan disampaikan ke BNPB.  Heru berharap pada 2015 mendatang, pengerukan Sungai Bogel dan Udut Unut dapat segera dilaksanakan.

Menurut Heru, tingginya intensitas hujan selama 2 pekan terakhir, dampaknya sudah mulai dirasakan warga Kec. Sutojayan. Sungai Bogel dan Sungai Udut Unut tidak mampu lagi menampung luapan air hujan. Meski belum menggenangi perumahan penduduk, namun luapan air dari kedua sungai tersebut kini sudah membanjiri persawahan warga. (IM-Dishubkominfo)