Blitar – Kemajuan teknologi dan informasi pada era globalisasi tidak bisa dibendung dampaknya, baik positif maupun negatif. Ini merupakan tantangan bagi bangsa Indonesia untuk melakukan filter terhadap dampak negatif dari kemajuan tersebut, terutama bagi kalangan remaja. Mengingat mereka generasi penerus bangsa. Dan nilai pengamalan Pancasila merupakan formula yang tepat untuk memfilter kemajuan itu. Pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam masyarakat merupakan condition sine quanon yang bertujuan agar negara ini menjadi negara yang melindungi segenap bangsa, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan melaksanakan perdamaian dunia berdasarkan perdamaian abadi dan keadilan sosial. Untuk itu pengamalan nilai-nilai luhur dari Pancasila ini perlu ditekankan kembali dikalangan remaja atau pelajar. Hal ini mengemuka pada kegiatan Pendidikan Wawasan Kebangsaan dan Bela Negara Bagi Pelajar SMA Tahun 2016 di SMA 1 Srengat, Kamis, 15 September 2016.

Mujianto, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Blitar dalam sambutannya diacara tersebut juga menyampaikan, pengamalan nilai-nilai Pancasila oleh warga sekolah termasuk pelajar, guru serta tenaga penunjang kependidikan diantaranya dengan mengamalkan sila-sila yang terdapat pada Pancasila. Misalnya sila ke-1, senantiasa taat kepada Tuhan YME, bekersama dan toleran. Untuk Sila ke-2 bisa mengakui dan menghormati ekistensi siswa lain baik fisik maupun nonfisik, berani jujur, tidak nyontek. Sila ke- 3 contohnya dengan mengutamakan kepentingan negara, Sila ke-4 yakni siswa harus belajar dan berprestasi dalam kegiatan politik di sekolah, berani berpendapat. Sedangkan pengamalan sila ke-5 siswa diharapkan belajar tekun, sederhana dalam penampilan, menggunakan hal milik secara proporsional, serta menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.  Untuk itu, para pendidik diharapkan memberi teladan,  juga adanya ketentuan hukum yang fair baik peraturan maupun kode etik termasuk penghargaan dan hukuman kepada siswa maupun pemangku kepentingan secara proporsional. Pihak sekolah juga diharapkan menyediakan sarana dan prasarana pengembangan soft skill dalam bentuk ekstrakurikuler maupun kebijakan bermuatan budi pekerti dalam mata pelajaran.  Mujianto juga mengharapkan, para siswa untuk menghindari narkoba dan tawuran pelajar.

Hal senada juga disampaikan Prof. Dr.Drs. Widodo, SH, MH salah satu narasumber dari Universitas Wisnuwardhana Malang yang juga merupakan Dosen Luar Biasa Universitas Brawijaya. Menurutnya, di lingkungan sekolah harus diciptakan asah, asih, dan asuh sehingga dapat mewujudkan gagasan Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing  Madya Mangun Karsa dan Tut Wuri Handayani.

Prof. Dr.Drs. Widodo, SH, MH dihadapan peserta yang berjumlah sekitar 250 siswa tersebut juga menyampaikan, kondisi internal Indoensia saat ini antara lain, makin menguatkan ikatan-ikatan primordialisme berdasarkan ras, suku, etnis,  agama, golongan dalam masyarakat. Budaya masyarakat banyak yang berubah dari aslinya, masih lekatnya kecenderungan mentalitas umum di masyarakat yang kurang baik, contonya masih suka tidak percaya diri, meremehkan mutu, tidak disiplin, dan mentalitas mengabaikan tanggungjawab yang kokoh. Sedangkan kondisi eksternal di luar negeri  antara lain, banyaknya konsepsi HAM yang tidak sesuai dengan Pancasila misalnya liberalisme, hedonisme  serta globalisasi dalam berbagai bidang kehidupan. Dengan demikian, agar nilai-nilai Pancasila tetap dijaga, diamalkan, oleh seluruh warga negara Indonesia termasuk oleh kalangan pelajar.

Ditempat yang sama, Kasdim 0808 Blitar Mayor Inf Muji Wahono yang juga menjadi narasumber dalam acara itu mengungkapkan, semua warga negara wajib untuk membela negara, termasuk para pelajar. Diakui atau tidak, jati diri dan wawasan kebangsaan sudah luntur. Untuk itu, perlu kembali bangkit membela negara dari berbagai ancaman. Sikap tegas, tekad, tindakan dan perilaku warga negara yang teratur, menyeluruh serta terpadu yang dijiwai kecintaan terhadap NKRI akan menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara.

Selain itu, narasumber dari Polres Kota Blitar mengingatkan tentang bahaya minuman keras dan narkoba. Pelajar merupakan satu diantara korban minuman keras dan narkoba. Banyak remaja meninggal karena seusai pesta miras yang dioplos maupun narkoba. Diharapkan, para pelajar tidak coba-coba dan meningkatkan keimanan. Juga menyalurkan keinginan, bakat melalui kegiatan yang positif baik di lingkungan sekolah maupun tempat tinggal.(Humas)