Blitar-Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2010 tentang pemindahan ibukota Kabupaten Blitar ke Kanigoro mendapat respon cepat dari Pemerintah Kabupaten Blitar. Ini terbukti , pusat pemerintah Kabupaten Blitar (Kantor Bupati Blitar) sudah beralih di Kanigoro tepatnya di Jalan Kusuma Bangsa Nomor 60. Bahkan Kantor Bupati Blitar ini telah difungsikan sejak awal Tahun 2016. Terkait itu, penataan Kota Kanigoro sebagai ibukota Kabupaten Blitar harus segera dilakukan. Dan ini tentunya memerlukan dukungan sarana dan prasarana serta dukungan dari masyarakat, khususnya masyarakat Kelurahan Satreyan dan Kelurahan Kanigoro. Hal ini mengemuka dalam kegiatan Sosialisasi Penataan Perkotaan Kanigoro di Lantai 3 Kantor Bupati Blitar di Kanigoro, Kamis (5/1).

Plt.Sekretaris Daerah Kabupaten Blitar, Drs. Totok Subihandono, M.Si saat membacakan sambutan Bupati Blitar dalam acara tersebut menyampaikan, penataan Kota Kanigoro nantinya akan meliputi antara lain,  sarana air bersih, drainase yang baik, area publik serta kawasan hijau yang berkelanjutan. Berbagai dampak yang muncul jika penataan ibukota ini terwujud diantaranya, terbuka peluang kreja dan penanaman investasi di kota ini, serta sarana, kualitas kesehatan dan pendidikan juga akan turut meningkat. Harapannya, dengan kegiatan sosialisasi ini, masyarakat mendukung percepatan penataan Ibukota Kanigoro.

Sementara itu, Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman, Drs. Sumantri, MM mengungkapkan,  agenda Tahun 2017 dimulainya penataan Kota Kanigoro, diantaranya, dibangunnya trotoar, peningkatan jalan-jalan di Kanigoro serta peralihan pasar Kanigoro ke Kelurahan Satreyan.

Dihadapan undangan yang hadir yakni Camat Kanigoro, Lurah Satreyan, Lurah Kanigoro, RT/RW di dua kelurahan, serta tokoh agama dan masyarakat, Erik, Konsultan Tata Kota memaparkan, semua wilayah yang ada di Kanigoro berpotensi menjadi pengembangan ibukota. Tujuan dari penyelenggaraan penataan Kota Kanigoro ini agar lingkungan layak huni, berjati diri, produktif dan berkelanjutan. Sesuai dengan Peraturan Menteri Pekaerjaan Umum Nomor 6 Tahun 2007 tentang pedoman RTBL, Penataan Kota Kanigoro akan diwujudkan dalam kota hijau yang berlenajutan. Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) adalah sebuah produk pengaturan yang disusun diharapkan dapat mensinergikan seluruh perencanaan yang ada di suatu kawasan sehingga dapat mendukung dan memberikan kontribusi terhadap terwujudnya kota hijau yang berkelanjutan. RTBL juga merupakan upaya konservasi kawasan berskala lingkungan dalam dokumen yang disusun sesuai Pedoman RTBL (Permen PU No. 06/PRT/M/2007). Upaya tersebut diharapkan tercapai dengan fokus pada penciptaan ide-ide kreatif sebagai target hijau kawasan yang: Menciptakan suasana kondusif dalam rangka pembangunan bangunan gedung hijau; Fokus pada desain lingkungan yang dapat menghemat penggunaan sumber daya tak terbarukan/fossil fuel; dan Pendetilan tata cara pelaksanaan ditingkat basis masyarakat untuk mencapai target sasaran ‘hijau’di wilayahnya.

Untuk Bagian Wilayah Perkotaan (BWP) di Kota Kanigoro ini bertujuan untuk mewujudkan pusat pemerintahan dan perdagangan. Penataan  Kota Kanigoro luas wilayah sekitar 60,14 ha. Deliniasi kawasan perencanaan Kota Kanigoro yaitu; sebelah Utara 540,01 m area Kantor DPRD Kabupaten Blitar, Sebelah Timur simpang tiga barat (Dekat Alfamart) dengan luas sekitar 212,42 m, sebalah selatan Sungai Glondong luas 2,565,67m, dan sebelah barat  saluran sekunder (barat SPBU Kanigoro) yakni 1,162, 69 m.

Lebih lanjut dia menjelaskan, dengan terbangunnya kota, artinya ada potensi dan masalah. Untuk potensi perkotaan yaitui sebagai pusat pemerintahan, perdagangan/jasa. Dan masalah yang akan timbul diantaranya PKL kendati belum masif juga perlu dipertimbangkan keberadaannya, pelebaran jalan, parkir liar yang harus ditata dengan bijak.

Untuk isu strategis dari titik 0 km Kanigoro yakni dibagi dua segmen. Semen A sebagai karakter tradisi yang meliputi pemerintahan, RTH taman. Untuk Segmen B meliputi pusat perdagangan dan jasa  skala regional (pasar baru, pasar ikan, pusat kuliner), sport centre dan RTH Sempadan sungai.  Sementara isu strategis lain yakni  belakang koramil menjadi taman atau hutan kota, lapangan sepak bola menjadi sport centre, pasar rakyat berada di samping sport centre serta pengadaan landmark baru Kanigoro sebagai ibukota Kanigoro. (Humas)