Blitar – Tahun 2017, Blitar memasuki usianya yang ke-693. Perubahan secara signifikan di berbagai bidang telah dicetak oleh Kabupaten Blitar. Bupati Blitar, Drs. H.Rijanto, MM dalam sambutannya saat acara Pisowanan Agung Hari Jadi Blitar ke-693 di Pendopo Ronggo Hadinegoro, Sabtu (5/8) menegaskan, dari tahun ketahun Kabupaten Blitar menunjukkan kemajuan, diantaranya dibidang ekonomi, pembangunan manusia, dan infrastruktur. Selain itu, beberapa penghargaan telah dicetak sehingga menambah deretan Prestasi Kabupaten Blitar, kabupaten yang lebih akrab dengan julukannya sebagai Kabupaten Seribu Candi.

Bupati Blitar juga menyampaikan, prestasi itu antara lain, predikat opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK RI. Prestasi ini sungguh membanggakan, mengingat sekitar 9 tahun Kabupaetn Blitar menunggu opini WTP tersebut. Kendati telah mendapat opini WTP, kerja keras, semangat membangun, transparansi anggaran, tertib administrasi dan aset harus terus ditingkatkan. Disebutkan pula, prestasi lain yang patut mendapat apresiasi yakni, pertumbuhan ekonomi masyarakat Kabupaten Blitar pada Tahun 2016 mencapai 5,15%, Pendapatan per kapita yang semula sekitar 23 juta menjadi 25 juta per tahun. Sedangkan untuk  angka kemiskinan mampu turun, yang semula sekitar 9,97% menjadi 9,88%. Untuk IPM dari 68,13% menjadi 69,30%. Bahkan untuk nilai investasi, juga ada peningkatan. Diantaranya, keberadaan PT.Greenfield yang telah diresmikan pada 3 Mei 2017, serta perusahaan yang berinvestasi dibidang pertanian dengan mengembangkan pisang cavendis di daerah Jurang Banteng, Kecamatan Gandusari. Harapannya, Kabupaten Blitar bisa menjadi pusat pertanian berbasis industri, pusat wisata, baik wisata sejarah, alam, seni budaya dan kuliner. Ini juga dalam rangka mewujudkan Visi Bupati/Wakil Bupati Blitar,” Menuju Kabupaten Blitar Yang Lebih Sejahtera, Maju dan Berdaya Saing”. Melalui Tema, “Di Hari Jadi Blitar ke-693 Tahun 2017 dan HUT RI ke-72 Tahun 2017, Kita Jalin Semangat Kebersamaan dalam Kebhinekaan Untuk Meningkatkan Pembangunan Demi Terwujudnya Kabupaten Blitar Yang Sejahtera, Maju dan  Berdaya Saing,”

Bupati Blitar mengingatkan kembali, untuk meningkatkan semangat Hurub Hambangun Praja.

Dihadapan undangan yang hadir, orang nomor satu di Kabupaten Blitar ini juga menyampaikan tentang Triangle Diamond (Tiga Berlian) yakni, Pantai Serang, Candi Penataran dan Sirah Kencong. Ketiga lokasi wisata tersebut menjadi fokus pengembangan pariwisata oleh Pemerintah Kabupaten Blitar. Pasalnya, ketiga lokasi tersebut masih alami atau belum banyak dipoles sehingga kurang dikenal masyarakat luas. Harapannya, dengan polesan yang tepat,  ketiga lokasi itu akan berkilau atau dikenal oleh masyarakat. Hal ini tentunya harus didukung oleh lokasi wisata disekitar lokasi tersebut. Bupati Blitar berharap, dampak yang didapat dari pengembangan ketiga lokasi ini mampu mendongkrak perekonomian masyarakat.

Seperti diketahui, Candi Penataran merupakan candi hindu terbesar di Jawa Timur. Di kawasan tersebut banyak dijumpai situs-situs bersejarah. Bupati Blitar pernah menyampaikan harapannya kepada pemerintah pusat agar di kawasan Candi Penataran dibentuk Balai Cagar Budaya untuk menyelamatkan situs dan menata kawasan di sana. Ini artinya pengembangan kawasan di sana dibangun secara integral, yakni antara wisata budaya, purbakala, serta agrowisata. Sementara itu untuk pengembangan pantai Serang yang ada di Kecamatan Panggungrejo, dilakukan kerja sama dengan Perhutani. Diharapkan pula, baik Perhutani maupun Pemerintah Kabupaten Blitar dapat menggandeng investor untuk menggarap pantai tersebut. Mengingat, wahana wisata di lokasi itu ada beberapa yang bisa menarik wisatawan antara lain, permainan pasir, pelestarian penyu, layang-layang, larung sesaji, dan lainnya. Bahkan, pahlawan PETA, Suprijadi juga sempat tinggal di daerah tersebut, sehingga disana dibangun Monumen Suprijadi.  Sedangkan untuk pengembangan agrowisata Sirah Kencong, telah melibatkan swasta dan BUMN. Terdapat peternakan sapi perah yang dimotori oleh PT.Greenfield. Untuk kebun teh oleh PTPN XII dan Perhutani. Wisatawan yang datang ke Kebun Teh Bantaran selain dapat melihat keasrian kebun juga dapat melihat proses petik daun teh dan produksinya. Teh tersebut dikenal dengan Teh Ken. Ini  di eskpor ke luar negeri, seperti ke negara Jepang.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Blitar juga menyampaikan, agar menggaungkan kembali Gerakan Ayo Bela Beli Produk Blitar. Dengan membeli produk Blitar, artinya turut meningkatkan perekonomian masyarakat khususnya pelaku UMKM.

Diakhir sambutannya, Drs. H.Rijanto, MM memberikan apresiasi kepada Livi Zheng, satu diantara sutradara Hollywood yang lahir di Blitar. Diusianya yang masih belia, Livi Zheng yang akrab dengan filmnya Brush With Danger ini sudah banyak mencatat prestasi.

Sejarah Blitar

Blitar lebih akrab pula dengan sebutan Bumi BUMI LAYA IKA TANTRA ADHI RAJA atau tempat pusara raja-raja besar. Enam abad yang lalu, tepatnya pada bulan Waisaka Tahun Saka 1283 atau 1361 Masehi, Raja Majapahit yang bernama Hayam Wuruk beserta para pengiringnya menyempatkan diri singgah di Blitar untuk mengadakan upacara pemujaan di Candi Penataran. Rombongan itu tidak hanya singgah di Candi Penataran, namun juga ke tempat lain yang dianggap suci, yaitu Sawentar (Lwangwentar) di Kanigoro, Jimbe, Lodoyo, Simping (Sumberjati) di Kademangan dan Mleri (Weleri) di Srengat. Pada tahun 1357 Masehi (1279 Saka) Hayam Wuruk berkunjung kembali ke Blitar untuk meninjau daerah pantai selatan dan menginap selama beberapa hari di Lodoyo.

Pada tahun 1316 dan 1317 Kerajaan Majapahit carut marut karena terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh Kuti dan Sengkuni. Kondisi itu memaksa Raja Jayanegara untuk menyelamatkan diri ke desa Bedander dengan pengawalan pasukan Bhayangkara dibawah pimpinan Gajah Mada. Berkat siasat Gajah Mada, Jayanegara berhasil kembali naik tahta dengan selamat. Adapun Kuti dan Sengkuni berhasil diringkus, kemudian dihukum mati. Karena kebaikan penduduk Desa Bedander, maka Jayanegara memberikan hadiah berupa prasasti kepada para penduduk desa tersebut. Ini menjadikan Blitar sebagai daerah swatantra di bawah naungan Kerajaan Majapahit. Peristiwa bersejarah tersebut terjadi pada hari Minggu Pahing bulan Srawana Tahun Saka 1246 atau 5 Agustus 1324 Masehi, sesuai dengan tanggal yang tercantum pada prasasti. Tanggal itulah yang akhirnya diperingati sebagai hari jadi Blitar setiap tahunnya.(Humas)