BLITARKAB. Pemerintah Kabupaten Blitar melalui Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar megadakan Pertemuan Monitoring Implementasi Rencana Aksi Daerah (RAD) Penanggulangan Tuberkulosis di Kabupaten Blitar, Kamis (04/04/2019) di Puri Perdana Blitar. Pertemuan tersebut dibuka langsung oleh Krisna Yekti Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar dan dihadiri beberapa OPD terkait, Puskesmas dan Rumah Sakit Wlingi. Saat ini Indonesia menjadi negara dengan beban Tuberculosis atau TBC tertinggi ketiga di didunia. Menemukan kasus baru TBC masih menjadi tantangan untuk Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar. Untuk itu, adanya RAD tersebut diharapkan mendapatkan dukungan dari Pemkab dalam hal ini Bupati Blitar H. Rijanto. RAD ini akan berdurasi 5 tahun dari tahun 2020-2024. Khusus untuk program TBC akan di finalkan bahwa dokumen yang sudah draft terakhir akan di konfirmasi dan di sampaikan OPD lintas sektor terkait. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar Krisna Yekti mengatakan pertemuan tersebut diharapkan bisa mendapatkan dukungan yang lebih riil, sehingga di tahun 2020 ini dukungan baik anggaran maupun fisik seperti sosialisasi di wujudkan dari teman-teman pendukung program TBC. “Harapannya Perbup cepat selesai dan cepat bisa di ditanda tangani oleh Bupati Blitar sehingga kita nanti akan segera untuk mensosialisasikan kepada OPD terkait dan kepada masyarakat serta harapannya lagi program TBC di Kabupaten Blitar ini bisa berjalan dengan baik, lebih banyak yang kita temukan dan kita akan menangani, mengobati sampai dengan sembuh,” imbuhnya. Lebih lanjut Krisna Yekti mengatakan penderita TBC di Kabupaten Blitar ± 600 sedangkan target tahun 2019 sekitar 3225. Sehingga masih banyak penderita TBC yang belum ditemukan, dengan adanya RAD inilah dukungan dari berbagai pihak sangat diperlukan. “Kami menghimbau kepada masyarakat tidak menyembunyikan apabila keluarganya yang terkena TBC, karena penyakit TBC bisa disembuhkan sampai sembuh lain dengan HIV AIDS , kalau HIV AIDS tidak bisa disembuhkan akan tetapi paling tidak bisa kita obati sehingga memperpanjang umur harapan mereka. Akan tetapi kalau TBC kita bisa sembuhkan,” tutur Krsina Yekti Pemerintah sudah memberikan obat gratis untuk penderita TBC dan itu bisa didapatkan di setiap Puskesmas di Kabupaten Blitar. Sehingga harapannya masyarakat mau terbuka untuk menyampaikan kepada pihak medis jika menderita TBC. Sementara itu Singgih Pribadi dari Governance Specialist di KNCV Tuberculosis Foundation narasumber dari pertemuan tersebut menyampaikan dalam mendukung RAD tersebut diperlukan kader untuk menjadi Pendamping atau pengawas kepada penderita TBC. Dinkes Kabupaten Blitar masih kekurangan SDM dalam penanganan TBC. “Sudah ada 5 Kecamatan di Kabupaten Blitar yang menjadi kader TB. Secara teknik memang dilakukan Dinkes akan tetapi masyarakat menjadi kader boleh mau menjadi lembaga swadaya masyarakat peduli TBC atau penderita TBC yang memiliki peran besar dalam pendamping pasien sedang dalam pengobatan misalkan memberikan motivasi untuk menuju sehat,” ujarnya Diakhir sambutannya Singgih Pribadi mengatakan Kesehatan merupakan urusan wajib yang harus dilaksanakan secara bersama-sama, diharapkan indikator yang ada tercapai, penderita TBC banyak ditemukan juga banyak disembuhkan, bisa ditekan dengan sumber daya yang ada yang dikuatkan dan diberikan komitmen dari pemerintah kabupaten Blitar. (EM-DISKOMINFO)