SEKRETARIAT DAERAH KABUPATEN BLITAR BAGIAN HUMAS DAN PROTOKOL Jl. Sudanco Supriyadi No. 17 Telp. (0342) 808061 B L I T A R PERS RELEASE Nomor : 489/ /409.018/ 2013
Inovasi Pendidikan, Dukung Misi Visi Bupati Blitar
[pdf-embedder url=”http://ppid.blitarkab.go.id/wp-content/uploads/2013/05/tutwuruhandayani.jpg”>
Dinas Pendidikan di Kabupaten Blitar terus berbenah. Berbagai inovasi diaplikasikan demi mendukung visi dan misi Bupati Blitar,” Terwujudnya Kabupaten Blitar Yang Sejahtera, Religius dan Berkeadilan″. Tidak heran jika, peserta didik di kabupaten yang memiliki 22 kecamatan ini dituntut untuk kembali ngleluri Budaya Jawa sekaligus mengembangkan pendidikan karater melalui pembangunan pendidikan akhlak mulia. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Blitar, Romelan, Senin (25/6) di Kantor Bupati Blitar mengatakan, Budaya Jawa saat ini mulai tergeser dengan masuknya budaya asing. Sifat westernisasi sudah menjangkit masyarakat Indonesia termasuk pada anak didik di wilayah Kabupaten Blitar. Nyaris, dengan budayanya sendiri tidak mengenal. Untuk itu, ngleluri Budaya Jawa harus direalisasikan oleh masing-masing sekolah diantaranya melalui tulisan hanacaraka serta penggunaan Bahasa Krama Inggil setiap hari Jumat sebagai bahasa pengantar di lingkungan sekolah. Bahkan tahun ajaran baru mendatang, penggunaan krama inggil setiap akhir bulan dibarengi dengan pemakaian baju kejawen. Harapannya, terobosan ini bisa menggugah rasa memiliki budaya Jawa. Ditegaskan pula, selain ngleluri Budaya Jawa, Dinas Pendidikan membangun akhlak mulia kepada peserta didik dengan aktif membaca Al Quran atau kitab suci sedikitnya 10 menit. Sebelum atau sesudah menerima mata pelajaran. Ini juga dalam rangka membangun karakter . Pendidikan Karakter adalah upaya dalam rangka membangun karakter (character building) peserta didik untuk menjadi lebih baik. Secara etimologis karakter dapat dimaknai sesuatu yang bersifat pembawaan yang mempengaruhi tingkah laku, budi pekerti, tabiat, ataupun perangai. Hal lain yang barangkali belum ada di daerah lain yakni Gerakan Tangan Diatas. Terobosan yang satu ini bertujuan mengajarkan siswa membiasakan diri untuk beramal. Hasilnya, dari November lalu dana yang sudah terkumpul dari seluruh lembaga sekolah mencapai 1 miliar rupiah. Dana ini digunakan untuk membantu siswa yang kurang mampu. Pasalnya, masalah yang dihadapi siswa miskin bukan saja hanya terletak pada ketidakmampuannya untuk membayar iuran kegiatan sekolah, tetapi juga biaya untuk pergi ke sekolah yang tidak menutup kemungkinan jarak rumah sangat jauh dengan lokasi sekolah. Sementara itu sesuai PROTAP Dinas Pendidikan, juga akan digalakkan kembali rasa kebangsaan. Fakta, sekarang ini peserta didik masih ada yang tidak hafal dengan bunyi Pancasila maupun lagu-lagu nasional. Untuk itu mengawali proses belajar mengajar, masing-masing sekolah diharapkan bisa mengaplikasikan program ini. Menurut Romelan, dalam PROTAP itu disebutkan, memasuki lingkungan sekolah harus turun dari sepeda/sepeda motor, berjabat tangan dengan pengajar atau teman yang ada disekolah dengan tidak lupa mengucap salam. Sesudah itu, membiasakan membaca bunyi Pancasila setiap hari, kemudian doa yang dilanjutkan dengan membaca Al Qur’an atau kitab suci lain bagi yang beragama non Islam.
Dikeluarkan di : B l i t a r Pada tanggal : 28 Juni 2013
Kepala Bagian Humas dan Protokol JONI SETIAWAN, S.Sos, MSi Pembina NIP. 19690611 198809 1 001