Demikian diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar, Kuspardani. Ia mengatakan, tahun Pemkab Blitar menggelontorkan anggaran 629 juta rupiah, dimana Nominal itu lebih besar dibanding 2014 lalu yang hanya Rp150 juta. Dari total anggaran yang tersedia, separonya digunakan untuk program pramantik, yakni memberdayakan tenaga Pramuka sebagai pemantau jentik. Pada tahun ini serangan DBD di Kabupaten Blitar lebih luas. Indikasinya, DBD tidak hanya terjadi di tiga kecamatan endemis, yakni Kesamben, Sanankulon dan Srengat. Beberapa kecamatan yang sebelumnya tidak pernah terjadi kasus DBD, tahun ini juga terjangkit. Diperkirakan siklus lima tahunan ini akan berlangsung hingga bulan Maret mendatang. Sementara itu, masih menurut Kuspardani, di wilayah Kabupaten Blitar DBD telah menyerang 18 kecamatan. Tercatat sebanyak 37 kasus per januari kemarin. Dibandingkan tahun 2014 serangan di awal tahun 2015 lebih dahsyat. (RIZ-Dishubkominfo)