Blitar – Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla ingin berdaulat pangan. Namun niat saja tidak akan cukup jika tidak diiringi dengan cara yang baik untuk mewujudkannya. Kedaulatan pangan tidak hanya produksi meningkat dan berkelanjutan, namun juga menjadikan petani mulia dan berdaulat. Petani adalah komponen penting dalam pencapaian kedaulatan pangan sekaligus sokoguru bangsa yang menjaga kekokohan nusantara. Untuk itu, pengajar di Departemen proteksi Tanaman IPB Dr. Ir. Hermanu Triwidodo, MSc pada kegiatan Temu Usaha Dalam Rangka Membuka Relasi Antara Pelaku Utama dan Pelaku Usaha Guna Meningkatkan Penghasilan Petani yang berlangsung di Aula Kantor Bupati Blitar, Minggu 29 Mei 2016 menegaskan, pihaknya sedang memaksimalkan Solidaritas Untuk Lumbung (SOUL) yakni mengoptimalkan program pembelian beras kualitas premium kepada petani. Ini sebagai langkah memutus tata niaga atau mengalihkan subsidi pupuk ke harga. Artinya, upaya untuk menekan murahnya harga beras ketika panen yang tidak seimbang saat masa pemeliharaan seblum panen. Karena mayoritas keluhan para petani saat panen harga gabah/beras turun. Petani cenderung rugi.

Selain itu juga dijelaskan, IPB sedang mengkonsep sentra peternakan rakyat. Sekaligus menmgembangkan benih berbasis masyarakat. Sehingga sesama petani, peternak bisa bersatu memerangi masalah, mencari solusi. Harapannya, petani bisa membuat pupuk sendiri dan bisa mengurangi biaya produksi. Dengan demikian SDM petani juga turut meningkat. Jika SDM meningkat, inovasi dari petani akan muncul sehingga pengusaha atau pelaku utama bisa mmeperhitungkan hasil produksi petani, tidak lagi mmebeli dengan harga yang murah.

Pada kesempatan tersebut, beberapa petani yang tergabung dalam gapoktan mempertnayakan, subsidi dari pemerintah. Pemerintah pusat diharapkan tidak saja mensubsidi pupuk namun juga benih yang berkualitas. Termasuk alat mesin pertanian dan bantuan perbankan yang ringan.  Petani optimis, jika ini diberikan oleh pemerintah dengan tepat sasaran, hasil pertanian akan semakin bagus. Sementara itu perwakilan dari Bank Jatim menjelaskan, untuk sementara ini memang bantuan perbankan masih cenderung untuk penguatan ekonomi produktif dan jasa. Namun kedepan akan dievaluasi  berapa besaran dan bunga yang tepat serta persyaratan yang mudah bagi petani untuk mengembangkan usahanya.  Dengan demikian, petani bisa mengupayan bahwa hasil pertanian merupakan bisnis yang menjanjikan.(Humas)